Kisah petani garam Indonesia lebih menye

Kisah petani garam Indonesia lebih menye


Kisah petani garam Indonesia lebih menyedihkan. Di Desa Kanci misalnya, terdapat 3 kelompok petani garam. Satu diantaranya petani garam yang menggarap tambak miliknya sendiri. Petani garam yang lain berstatus penyewa lahan dengan tariff sewa sebesar Rp 500 ribu per tahun. Petani garam yang berikutnya, lebih tragis lagi karena ia menggarap tambak milik orang lain dengan pembagian hasil dibagi dua. Gozali masih dalam kelompok petani penggarap, yang sangat bergantung pada hasil setelah dibagi sama besar dengan pemilik tambak. Dalam mengelola lahan pertanian garam itu, umumnya mereka masih sangat tergantung pula pada cuaca. Jika hujan, dapat dipastikan air laut yang mereka olah tidak akan menghasilkan garam. Hanya waktu cuaca panas, kegerahan dan kegembiraan baru berbaur dalam penampilan mereka. Sementara untuk menunggu proses air laut menjadi garam setidaknya petani membutuhkan waktu sekitar lama 5 hari lamanya. http://ow.ly/natKd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s